Ralat Himbauan Idul Adh-ha 1428H

Walaupun kami telah membuat ralat dan catatan tambahan di bagian akhir himbauan kami tentang Idul Adh-ha 1428H, agar lebih luas diketahui oleh orang-orang yang sebelumnya membacanya, maka kami mengangkat masalah ini menjadi tulisan sendiri di sini. Sebenarnya memang Idul Adh-ha itu mengacu berdasarkan wukuf sebagaimana tekstual hadits, namun dalam rangka menjaga persatuan dan kemaslahatan yang juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan, maka kami himbau kepada anda sekalian untuk berhari raya bersama pemerintah. Silahkan baca uraian yang singkat dan memuaskan mengenai ini.

Adapun puasa ‘Arafah, ya tetap pada hari di mana kaum muslimin berada di padang ‘Arafah karena sesuai dengan namanya “Puasa ‘arafah”, bukan puasa 9 Dzulhijjah. Dan lagi puasa ini bukanlah amalan jama’i, harus berjama’ah dengan kaum muslimin. Dengan demikian, tidak ada halangan bagi setiap muslim untuk melakukan puasa ‘Arafah sesuai pada waktunya.

Hiraukan saja jika anda mendengar seruan/ajakan untuk berpuasa ‘Arafah pada hari di mana kaum muslimin tidak ada di padang ‘Arafah. Sesuatu yang sangat aneh dan lucu ini pernah kami dengar di masjid besar di kawasan Jakarta Pusat. Sungguh tidak wajar pengumuman itu di masjid tersebut. Mudah-mudahan tahun ini pengurusnya memahaminya dan tidak melakukannya kembali.

Ditulis dalam Kabar. 16 Comments »

16 Tanggapan to “Ralat Himbauan Idul Adh-ha 1428H”

  1. ibnusani Says:

    Assalamu’alaykum…kepada ikwah sekalian tolong situs SOAL JAWAB di hapus dari link/blogrollnya coz sudah tidak seperti yang kita harapkan malah akan memojokkan dakwah salaf..tolong diinformasikan juga pada yang lainnya, jazakallahu khair..

  2. ibnusani Says:

    Assalamu’alaykum…kepada ikwah sekalian tolong situs SOAL JAWAB di hapus dari link/blogrollnya coz sudah tidak seperti yang kita harapkan malah akan memojokkan dakwah salaf..tolong diinformasikan juga pada yang lainnya, jazakallahu khair..

  3. admin Says:

    ibnusani » ‘Alaikum salam, Jazakallah khair atas informasi yang sangat berharga ini. Untuk yang lain, harap nanti tolong memberi komentar pada tempat yang sesuai sehingga bahasan tersebut mendapat perhatian.

  4. Ayazka Says:

    Assalamu’alaykum
    Jadi puasa Arofah kita laksanakan tgl 18 Des 2007 sedangkan berhari rayanya tgl 20 Des 2007? Apakah ketidakkonsistenan seperti ini dapat dibenarkan oleh syariat dan dicontohkan oleh salafus shaleh?

  5. Ayazka Says:

    Assalamu’alaykum
    Jadi puasa Arofah kita laksanakan tgl 18 Des 2007 sedangkan berhari rayanya tgl 20 Des 2007? Apakah ketidakkonsistenan seperti ini dapat dibenarkan oleh syariat dan dicontohkan oleh salafus shaleh?

  6. admin Says:

    Ayazka » Keterangan di atas sudah cukup jelas, terlabih lagi jika anda membaca uraian tambahannya. Dalam mengamalkan Islam itu harus melihat keseluruhan hadits dan menjalankan yang lebih mendekati. Dasar Idul Adh-ha telah jelas, lalu ada hadits dan perintah untuk berhari raya bersama kaum muslimin dalam hal ini ulil amri (pemerintah) sebagai pengurus mereka. Dan diperkuat dengan hadits shahih, bahwa Nabi bersabda tentang para penguasa:

    “Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka”.

    Maka kedua hadits ini sungguh kuat untuk menyimpulkan bahwa hari raya harus bersama pemerintah. Bagaimana tidak, shalat 5 waktu yang merupakan amalan terbesar setelah syahadatain saja kita tetap diperintahkan untuk bersama mereka, apalagi ibadah yang lebih rendah kedudukannya, tentu lebih tidak ada lagi halangan untuk mengerjakannya bersama mereka.

    Dan Ketidakkonsistenan mana yang dimaksud? Jika shalat ‘idul adh-ha mengikuti wukuf, maka bagaimana perintah Rasulullah untuk berhari raya bersama dan shalat bersama mereka (pemerintah)? Apakah kita akan mengamalkan 1 hadits (shalat setelah wukuf) lalu mengabaikan 2 perintah Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam di atas? Atau puasa ‘arafah saat Saudi berhari raya dan shalat pada hari berikutnya? Sungguh ini lebih aneh lagi.

    Akhirnya, kita dapati bahwa yang mendekati adalah sebagaimana yang di sampaikan pada tulisan di atas. Wallahu a’lam.

    Adapun salafus shaleh sangat banyak memberikan contoh kepada kita untuk shalat bersama dan ta’at kepada pemerintah Muslim serta berhari raya bersama kaum muslimin.

  7. admin Says:

    Ayazka » Keterangan di atas sudah cukup jelas, terlabih lagi jika anda membaca uraian tambahannya. Dalam mengamalkan Islam itu harus melihat keseluruhan hadits dan menjalankan yang lebih mendekati. Dasar Idul Adh-ha telah jelas, lalu ada hadits dan perintah untuk berhari raya bersama kaum muslimin dalam hal ini ulil amri (pemerintah) sebagai pengurus mereka. Dan diperkuat dengan hadits shahih, bahwa Nabi bersabda tentang para penguasa:

    “Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka”.

    Maka kedua hadits ini sungguh kuat untuk menyimpulkan bahwa hari raya harus bersama pemerintah. Bagaimana tidak, shalat 5 waktu yang merupakan amalan terbesar setelah syahadatain saja kita tetap diperintahkan untuk bersama mereka, apalagi ibadah yang lebih rendah kedudukannya, tentu lebih tidak ada lagi halangan untuk mengerjakannya bersama mereka.

    Dan Ketidakkonsistenan mana yang dimaksud? Jika shalat ‘idul adh-ha mengikuti wukuf, maka bagaimana perintah Rasulullah untuk berhari raya bersama dan shalat bersama mereka (pemerintah)? Apakah kita akan mengamalkan 1 hadits (shalat setelah wukuf) lalu mengabaikan 2 perintah Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam di atas? Atau puasa ‘arafah saat Saudi berhari raya dan shalat pada hari berikutnya? Sungguh ini lebih aneh lagi.

    Akhirnya, kita dapati bahwa yang mendekati adalah sebagaimana yang di sampaikan pada tulisan di atas. Wallahu a’lam.

    Adapun salafus shaleh sangat banyak memberikan contoh kepada kita untuk shalat bersama dan ta’at kepada pemerintah Muslim serta berhari raya bersama kaum muslimin.

  8. ummukhansa Says:

    assalamu’alaikum, afwan, ana baca artikel di link ini http://wiramandiri.wordpress.com/2006/12/24/ruyah-puasa-arafah/

    intinya ditulis bahwa menurut fatwa syeikh Utsaimin puasa Arafah juga mengikuti ru’yah masing2 negri…

    mohon tanggapannya. jazakumullahu khoir

  9. ummukhansa Says:

    assalamu’alaikum, afwan, ana baca artikel di link ini http://wiramandiri.wordpress.com/2006/12/24/ruyah-puasa-arafah/

    intinya ditulis bahwa menurut fatwa syeikh Utsaimin puasa Arafah juga mengikuti ru’yah masing2 negri…

    mohon tanggapannya. jazakumullahu khoir

  10. achmad Says:

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

    Masalah perbedaan memberlakukan mathla’ atau tidaknya, termasuk ke dalam permasalahan perbedaan-perbedaan pandangan, dan dalam hal ini ijtihad mengambil porsinya. Perselisihan tidak bisa dihindari bagi orang-orang yang mempunyai peran dalam ilmu dan agama, dan itu termasuk perselisihan yang diperbolehkan. Yang benar, akan memperoleh dua pahala. Yaitu pahala ijtihad dan pahala karena benar. Dan yang salah, memperoleh satu pahala, yaitu pahala ijtihad.

    dalam hal pelaksanaan puasa arofah, insyaAllah yang lebih mendekati dzohirnya adalah keumuman dilakukannya puasa pada saat tiba waktu wukuf jama’ah haji di arafah. sekali lagi pilihan ini adalah menyangkut Ijtihad masing2. sedangkan mengenai shalat ‘Ied selang hari, telah ada contoh dari Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau.
    berikut ini adalah dalilnya :

    “Dari Umair bin Anas bin Malik dari pamannya dari kalangan shahabat bahwasanya ada sekelompok pengendara datang. Mereka mempersaksikan bahwa telah melihat hilal kemarin. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk berbuka (Iedul Fithri) dan pergi pagi-pagi ke tanah lapang keesokan harinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/214, hadits ke 1026).

    Hadits ini sebagai dalil bagi orang yang berkata bahwasanya sahalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua, apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar waktu shalatnya. Pendapat ini adalah pendapat Al-Auza’I, At-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, Syafi’I, dll… Dhahir hadits diatas menunjukkan bahwa shalat pada hari yang kedua itu adalah penunaian bukan qadla.” Demikian keterangan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/310.

    Imam As-Shan’ani menyatakan : “hadits diatas sebagai dalil bahwa shalat Ied dilaksanakan hari kedua tatkala waktu Ied diketahui dengan jelas sesudah keluar (habis) waktu shalat.” (Subulus Salam 2/133)

    Demikian keterangan para ulama tentang masalah diatas yang menunjukkan bolehnya shalat Iedul Fithri pada hari kedua. Semoga tulisan yang diambil dari kitab-kitab para ulama ini bermanfaat bagi kita. Kesempurnaan itu hanya mutlak milik Allah Ta’ala sedangkan makhluk tempat khilaf dan kekurangan. Wallahu A’lam bis Shawab.

    Abul Hasan As-Sindi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah pada riwayat Tirmidzi, berkata dakam Shahih Ibnu Majah : “Yang jelas maknanya adalah bahwa perkara-perkara ini bukan untuk perorangan, tidak boleh bersendirian dalam hal itu. Perkaranya tetap diserahkan kepada imam dan jamaah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal sedangkan imam menolak persaksiannya, maka seharusnya tidak diakui dan wajib atasnya untuk mengikuti jamaah pada yang demikian itu.”

    Syaikh Al-Albani menegaskan : “Makna inilah yang terambil dari hadits tersebut. Diperkuat makna ini dengan hujjah Aisyah terhadap Masruq melarang puasa pada hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari nahr (10 Dzulhijah). Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama’ah. Aisyah berkata : “Nahr adalah hari manusia menyembelih kurban dan Iedul Fithri adalah hari manusia berbuka.” (Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/443-444)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya) : “Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa dan berbuka kalian (Iedul Fithri) adalah hari kalian berbuka (tidak berpuasa) dan Adha kalian adalah hari kalian berkurban. (HR. Tirmidzi 2/37 dan beliau berkata “hadits gharib hasan”. Syaikh Al-Albani berkata : “Sanadnya jayyid dan rawi-rawinya semuanya tsiqah. Lihat Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/440)

    Abul Hasan As-Sindi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah pada riwayat Tirmidzi, berkata dakam Shahih Ibnu Majah : “Yang jelas maknanya adalah bahwa perkara-perkara ini bukan untuk perorangan, tidak boleh bersendirian dalam hal itu. Perkaranya tetap diserahkan kepada imam dan jamaah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal sedangkan imam menolak persaksiannya, maka seharusnya tidak diakui dan wajib atasnya untuk mengikuti jamaah pada yang demikian itu.”

    Syaikh Al-Albani menegaskan : “Makna inilah yang terambil dari hadits tersebut. Diperkuat makna ini dengan hujjah Aisyah terhadap Masruq melarang puasa pada hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari nahr (10 Dzulhijah). Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama’ah. Aisyah berkata : “Nahr adalah hari manusia menyembelih kurban dan Iedul Fithri adalah hari manusia berbuka.” (Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/443-444)

    tambahan:
    Bahwa puasa arafah dilaksanakan pada hari ketika jamaah haji sedang wukuf di arafah dalilnya hadits riwayat muslim :
    “Puasa arafah,aku berharap kepada Alloh agar dihapus dosa setahun yg lalu dan setahun yang akan datang”.
    Berdasarkan hadits diatas bahwa puasa arafah disyariatkan pada hari dimana jamaah haji sedang wukuf di arafah. maka kata syekh, penentuan ied adha berbeda dengan ied fitri, jika ied fitri tiap negara berhak menentukan awal ramadhan berdasarkan ru’yah hilal masing2 negara. Tapi ied adha harus mengikuti keputusan majlis qodho ali di Riyadh KSA.
    Sedangkan Sholat Ied mengikuti daerah/pemerintah karena wajibnya mengikuti pemerintah untuk menjaga maslahat, serta bolehnya sholat Ied di hari kedua.
    Wallahu’alam.

  11. achmad Says:

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

    Masalah perbedaan memberlakukan mathla’ atau tidaknya, termasuk ke dalam permasalahan perbedaan-perbedaan pandangan, dan dalam hal ini ijtihad mengambil porsinya. Perselisihan tidak bisa dihindari bagi orang-orang yang mempunyai peran dalam ilmu dan agama, dan itu termasuk perselisihan yang diperbolehkan. Yang benar, akan memperoleh dua pahala. Yaitu pahala ijtihad dan pahala karena benar. Dan yang salah, memperoleh satu pahala, yaitu pahala ijtihad.

    dalam hal pelaksanaan puasa arofah, insyaAllah yang lebih mendekati dzohirnya adalah keumuman dilakukannya puasa pada saat tiba waktu wukuf jama’ah haji di arafah. sekali lagi pilihan ini adalah menyangkut Ijtihad masing2. sedangkan mengenai shalat ‘Ied selang hari, telah ada contoh dari Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau.
    berikut ini adalah dalilnya :

    “Dari Umair bin Anas bin Malik dari pamannya dari kalangan shahabat bahwasanya ada sekelompok pengendara datang. Mereka mempersaksikan bahwa telah melihat hilal kemarin. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk berbuka (Iedul Fithri) dan pergi pagi-pagi ke tanah lapang keesokan harinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/214, hadits ke 1026).

    Hadits ini sebagai dalil bagi orang yang berkata bahwasanya sahalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua, apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar waktu shalatnya. Pendapat ini adalah pendapat Al-Auza’I, At-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, Syafi’I, dll… Dhahir hadits diatas menunjukkan bahwa shalat pada hari yang kedua itu adalah penunaian bukan qadla.” Demikian keterangan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/310.

    Imam As-Shan’ani menyatakan : “hadits diatas sebagai dalil bahwa shalat Ied dilaksanakan hari kedua tatkala waktu Ied diketahui dengan jelas sesudah keluar (habis) waktu shalat.” (Subulus Salam 2/133)

    Demikian keterangan para ulama tentang masalah diatas yang menunjukkan bolehnya shalat Iedul Fithri pada hari kedua. Semoga tulisan yang diambil dari kitab-kitab para ulama ini bermanfaat bagi kita. Kesempurnaan itu hanya mutlak milik Allah Ta’ala sedangkan makhluk tempat khilaf dan kekurangan. Wallahu A’lam bis Shawab.

    Abul Hasan As-Sindi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah pada riwayat Tirmidzi, berkata dakam Shahih Ibnu Majah : “Yang jelas maknanya adalah bahwa perkara-perkara ini bukan untuk perorangan, tidak boleh bersendirian dalam hal itu. Perkaranya tetap diserahkan kepada imam dan jamaah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal sedangkan imam menolak persaksiannya, maka seharusnya tidak diakui dan wajib atasnya untuk mengikuti jamaah pada yang demikian itu.”

    Syaikh Al-Albani menegaskan : “Makna inilah yang terambil dari hadits tersebut. Diperkuat makna ini dengan hujjah Aisyah terhadap Masruq melarang puasa pada hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari nahr (10 Dzulhijah). Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama’ah. Aisyah berkata : “Nahr adalah hari manusia menyembelih kurban dan Iedul Fithri adalah hari manusia berbuka.” (Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/443-444)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya) : “Puasa kalian adalah hari kalian berpuasa dan berbuka kalian (Iedul Fithri) adalah hari kalian berbuka (tidak berpuasa) dan Adha kalian adalah hari kalian berkurban. (HR. Tirmidzi 2/37 dan beliau berkata “hadits gharib hasan”. Syaikh Al-Albani berkata : “Sanadnya jayyid dan rawi-rawinya semuanya tsiqah. Lihat Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/440)

    Abul Hasan As-Sindi setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah pada riwayat Tirmidzi, berkata dakam Shahih Ibnu Majah : “Yang jelas maknanya adalah bahwa perkara-perkara ini bukan untuk perorangan, tidak boleh bersendirian dalam hal itu. Perkaranya tetap diserahkan kepada imam dan jamaah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal sedangkan imam menolak persaksiannya, maka seharusnya tidak diakui dan wajib atasnya untuk mengikuti jamaah pada yang demikian itu.”

    Syaikh Al-Albani menegaskan : “Makna inilah yang terambil dari hadits tersebut. Diperkuat makna ini dengan hujjah Aisyah terhadap Masruq melarang puasa pada hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari nahr (10 Dzulhijah). Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama’ah. Aisyah berkata : “Nahr adalah hari manusia menyembelih kurban dan Iedul Fithri adalah hari manusia berbuka.” (Silsilah Al-Hadits As-Shahihah 1/443-444)

    tambahan:
    Bahwa puasa arafah dilaksanakan pada hari ketika jamaah haji sedang wukuf di arafah dalilnya hadits riwayat muslim :
    “Puasa arafah,aku berharap kepada Alloh agar dihapus dosa setahun yg lalu dan setahun yang akan datang”.
    Berdasarkan hadits diatas bahwa puasa arafah disyariatkan pada hari dimana jamaah haji sedang wukuf di arafah. maka kata syekh, penentuan ied adha berbeda dengan ied fitri, jika ied fitri tiap negara berhak menentukan awal ramadhan berdasarkan ru’yah hilal masing2 negara. Tapi ied adha harus mengikuti keputusan majlis qodho ali di Riyadh KSA.
    Sedangkan Sholat Ied mengikuti daerah/pemerintah karena wajibnya mengikuti pemerintah untuk menjaga maslahat, serta bolehnya sholat Ied di hari kedua.
    Wallahu’alam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: